Jumat, 21 September 2012

Baca Buku, Raih Ilmu!

Betapa membaca buku adalah sebuah cara yang paling sederhana untuk menjadi pintar, tentu Anda sepakat bukan? Zaman dahulu, untuk berguru pada seorang tokoh, seseorang harus menempuh perjalanan jauh, dan menetap di kota tokoh tersebut selamat berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Suatu hal yang tentu sangat sulit kita lakukan di zaman seperti sekarang ini. Belitan aktivitas, tuntutan untuk bekerja, dan sebagainya, telah membuat waktu yang kita miliki sangat terbatas. Tetapi, kemajuan dunia percetakan, telah membuat seorang yang berilmu mampu mencetak bukunya dalam jumlah besar, dan disebar ke berbagai penjuru. Untuk belajar sesuatu, kita tak perlu lagi mendatangi tempat sang ilmuwan tersebut. Cukup dengan membaca bukunya! Mudah, dan murah! Anda setuju?

Menurut Elly Damaiwati, penulis buku "KARENA BUKU SENIKMAT SUSU", membaca menjadi sangat penting, karena dunia semakin kompetitif dalam menyaring sumber daya manusia untuk memasuki berbagai bidang keahlian dan keilmuan. Syarat utama untuk bisa eksis—salah satunya—adalah dengan penguasaan ilmu dan teknologi. Kedua hal tersebut tentu sangat erat dengan kemampuan baca yang memadai. Tidak sekedar membaca tulisan, tetapi membaca dalam arti luas. Misalnya membaca sejarah, agar kita mampu mengambil pelajaran sehingga kita menjadi orang yang arif. Membaca tanda-tanda alam agar menambah ketundukan pada Allah, dan sebagainya.               

Tak ada perintah Allah untuk meminta tambahan seperti perintah meminta tambahan ilmu. Bahkan perintah itu diarahkan kepada Rasul, “Dan katakanlah, Ya Rabbi, tambahkan daku ilmu.” ( QS. Thaahaa: 114).

Itulah sebabnya, mengapa ayat yang pertama kali diturunkan adalah "Iqra!" bacalah! Sebelum melakukan segala sesuatu, bahkan beribadah, kita dianjurkan untuk membaca. Dengan membaca kita menjadi paham. Dengan paham, kita mengerti makna keikhlasan, dan karena keikhlasan, kita akan dengan ringan hati beramal shalih.

Menurut Tilaar (1999), proses membaca adalah proses memberikan arti kepada dunia (give meaning to the world). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masyarakat yang gemar membaca (reading society) akan melahirkan masyarakat yang belajar (learning society).   

Apa itu masyarakat yang belajar? Yaitu masyarakat yang terus menerus memberikan arti kepada dunia. Arti itu diperoleh dari membaca. Maka jelaslah bahwa aktivitas membaca menjadi suatu kebutuhan pokok manusia dalam suatu ‘masyarakat belajar’ atau masyarakat modern. Jika Anda ingin disebut sebagai bagian dari masyarakat modern maka Anda pun harus gemar membaca.

Sayangnya, minat membaca bangsa kita ini, benar-benar masih payah! penelitian yang dilakukan oleh Hastuti (1980) terhadap murid SD kelas VI kotamadya Yogyakarta. Dilaporkan bahwa angka rata-rata keterampilan berbahasa yang meliputi membaca, mendengarkan, menulis  hanya mendapatkan skor 58, suatu skor yang belum baik. 

Tingginya persentase angka bebas buta huruf di Indonesia, yakni sebesar 87% ternyata juga tidak menjamin tingginya minat baca serta kebiasaan membaca pada masyarakat kita. Bahkan menurut penelitian internasional mengenai kemampuan membaca pada murid sekolah dasar, ternyata menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia hanya menduduki peringkat yang sangat rendah,  yaitu   nomor dua dari bawah  alias rangking 29 di antara 30 negara  yang diteliti.[1] .

Sangatlah wajar jika hasil indeks pembangunan manusia (Human Development Index) tentang komposisi peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan dan penghasilan perkepala di antara 174 negara,  Indonesia berada pada urutan 109 pada th 1999 dan 112 pada tahun 2003. Masih jauh dari negara Thailand peringkat 74, Malaysia peringkat ke 58 dan Brunei peringkat ke 31. Padahal tinggi rendahnya HDI akan menentukan kualitas suatu bangsa.  Lebih ironis lagi, Indonesia yang mayoritas masyarakatnya muslim ternyata, tingkat melek huruf  Muslim (51%),  terendah di antara pemeluk agama yang lain, yakni  orang Yahudi 97%, Kristen (87%), Buddha (85%), Sikh (53%) dan Hindu (51%). Sebuah kondisi yang teramat  bertentangan, bila dikaitkan dengan perintah Allah pertama yang diturunkan lewat Rasullullah yakni, “Iqra`! bacalah!

Jadi, mari jadikan hari-hari kita tergenang ilmu. Jangan sampai hidup kita menjadi tanpa makna, sebab membiarkan diri tersulami benang-benang kebodohan.

Ditulis oleh Yeni Mulati, S.Si

Sumber: Buku "KARENA BUKU SENIKMAT SUSU", Elly Damaiwati, Indiva, 2007


[1] Elley, 1992

Mau tahu katalog buku kami? Klik KATALOG KAMI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar