Betapa membaca buku adalah sebuah cara yang paling sederhana untuk menjadi pintar, tentu Anda sepakat bukan? Zaman dahulu, untuk berguru pada seorang tokoh, seseorang harus menempuh perjalanan jauh, dan menetap di kota tokoh tersebut selamat berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Suatu hal yang tentu sangat sulit kita lakukan di zaman seperti sekarang ini. Belitan aktivitas, tuntutan untuk bekerja, dan sebagainya, telah membuat waktu yang kita miliki sangat terbatas. Tetapi, kemajuan dunia percetakan, telah membuat seorang yang berilmu mampu mencetak bukunya dalam jumlah besar, dan disebar ke berbagai penjuru. Untuk belajar sesuatu, kita tak perlu lagi mendatangi tempat sang ilmuwan tersebut. Cukup dengan membaca bukunya! Mudah, dan murah! Anda setuju?
Menurut Elly Damaiwati, penulis buku "KARENA BUKU SENIKMAT SUSU", membaca menjadi sangat penting, karena dunia semakin kompetitif dalam menyaring sumber daya manusia untuk memasuki
berbagai bidang keahlian dan keilmuan. Syarat utama untuk bisa eksis—salah
satunya—adalah dengan penguasaan ilmu dan teknologi. Kedua hal tersebut tentu
sangat erat dengan kemampuan baca yang memadai. Tidak sekedar membaca tulisan,
tetapi membaca dalam arti luas. Misalnya membaca sejarah, agar kita mampu mengambil
pelajaran sehingga kita menjadi orang yang arif. Membaca tanda-tanda alam agar
menambah ketundukan pada Allah, dan sebagainya.
Tak ada perintah Allah untuk meminta tambahan seperti perintah meminta
tambahan ilmu. Bahkan perintah itu diarahkan kepada Rasul, “Dan katakanlah, Ya Rabbi, tambahkan daku
ilmu.” (
QS. Thaahaa: 114).
Itulah sebabnya, mengapa ayat yang pertama kali diturunkan adalah "Iqra!" bacalah! Sebelum melakukan segala sesuatu, bahkan beribadah, kita dianjurkan untuk membaca. Dengan membaca kita menjadi paham. Dengan paham, kita mengerti makna keikhlasan, dan karena keikhlasan, kita akan dengan ringan hati beramal shalih.
Menurut Tilaar (1999), proses membaca adalah proses
memberikan arti kepada dunia (give
meaning to the world). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masyarakat
yang gemar membaca (reading society)
akan melahirkan masyarakat yang belajar (learning
society).
Apa itu masyarakat yang belajar? Yaitu masyarakat yang
terus menerus memberikan arti kepada dunia. Arti itu diperoleh dari membaca.
Maka jelaslah bahwa aktivitas membaca menjadi suatu kebutuhan pokok manusia
dalam suatu ‘masyarakat belajar’ atau masyarakat modern. Jika Anda ingin
disebut sebagai bagian dari masyarakat modern maka Anda pun harus gemar
membaca.
Sayangnya, minat membaca bangsa kita ini, benar-benar masih payah! penelitian yang dilakukan oleh Hastuti (1980) terhadap
murid SD kelas VI kotamadya Yogyakarta. Dilaporkan bahwa angka rata-rata
keterampilan berbahasa yang meliputi membaca, mendengarkan, menulis hanya mendapatkan skor 58, suatu skor yang
belum baik.
Tingginya persentase angka bebas
buta huruf di Indonesia, yakni sebesar 87% ternyata juga tidak menjamin
tingginya minat baca serta kebiasaan membaca pada masyarakat kita. Bahkan
menurut penelitian internasional mengenai kemampuan membaca pada murid sekolah
dasar, ternyata menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia hanya menduduki peringkat
yang sangat rendah, yaitu nomor dua dari bawah alias rangking 29 di antara 30 negara yang diteliti.[1] .
Jadi, mari jadikan hari-hari kita tergenang ilmu. Jangan sampai hidup kita menjadi tanpa makna, sebab membiarkan diri tersulami benang-benang kebodohan.
Ditulis oleh Yeni Mulati, S.Si
Mau tahu katalog buku kami? Klik KATALOG KAMI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar